Sebenarnya untuk postingan kedua saya berniat menuliskan sesuatu tentang teknologi, tapi kebetulan khutbah jumat tadi siang menyinggung sedikit tentang kata ini, yang membuat saya teringat sesuatu, sesuatu yang saya rasa cukup penting untuk disebarkan.


Suatu ketika, teman saya diajak untuk menghadiri sebuah kegiatan (maaf, tepatnya saya lupa kegiatan apa), teman saya tadi lalu mengatakan Insya Allah sebagai jawabannya. Tetapi tentu bukan ini yang ingin saya ceritakan disini, melainkan jawaban teman saya yang mengajaknya tadi : “Ah, yang tegas, jangan Insya Allah!”. Saya merasa terkejut mendengar jawaban tersebut, “Insya Allah? Tidak tegas? Bagian mananya?” pikir saya dalam hati. Saya melanjutkan pikiran ini sampai ke masa-masa SMA, dimana guru agama saya pernah berkata “Haram hukumnya berkata Insya Allah dalam keadaan ragu!”. Lalu bagaimana bisa sekarang ada yang mengatakan bahwa Insya Allah itu identik dengan tidak tegas?


Saya lalu mencoba untuk menarik kesimpulan, bahwa hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman atas arti sebenarnya dari kata Insya Allah tersebut. Insya Allah, secara bahasa berarti ‘Jika Allah menghendaki’. Berarti seseorang yang mengatakan Insya Allah telah berjanji dengan Atas Nama Allah! Itu artinya kita mengatakan bahwa kita akan melaksanakan janji itu sekuat tenaga dan hanya udzur syar’i saja yang bisa membuat kita membatalkannya. Apa saja udzur syar’i? Diantaranya : Sakit, Bepergian Jauh atau mungkin juga kematian.


Jadi, selama anda tidak sakit, tidak bepergian jauh dan belum mati, anda WAJIB menunaikan janji yang anda katakan dengan Insya Allah.


Hal ini juga dapat diartikan, bahwa orang yang sejak awal merasa ragu ingin melaksanakannya atau tidak, tetapi mengatakan Insya Allah, telah menipu dengan mengatasnamakan Allah! Entah Balasan apa yang akan kita terima jika melakukan hal itu.


Kalau begitu sebaiknya jangan mengatakan Insya Allah kalau berjanji
Ini juga salah. Kenapa? Karena kita tidak akan dapat memastikan apa yang akan terjadi sedetik kedepan, sehingga jika kita merasa yakin akan mengerjakan sesuatu, maka hendaknya katakana Insya Allah, dan jka tidak yakin, maka katakanlah bahwa anda tidak yakin.

Jika melihat dalilnya:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu ’sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,’ kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah ‘mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS Al-Kahfi: 23-24)