Teknologi PLTN dirancang agar energi nuklir yang terlepas
dari proses fisi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam kehidupan
sehari-hari. PLTN merupakan sebuah sistim yang dalam operasinya menggunakan
reaktor daya yang berperan sebagai tungku penghasil panas. Dewasa ini ada
berbagai jenis PLTN yang beroperasi. Perbedaan tersebut ditandai dengan
perbedaan tipe reaktor daya yang digunakannya. Masing-masing jenis PLTN/tipe
reaktor daya umumnya dikembangkan oleh negara-negara tertentu, sehingga
seringkali suatu jenis PLTN sangat menonjol dalam suatu negara, tetapi tidak
dioperasikan oleh negara lain. Perbedaan berbagai tipe reaktor daya itu bisa
terletak pada penggunaan bahan bakar, moderator, jenis pendinging serta
perbedaan-perbedaan lainnya.
Perbedaan jenis
reaktor daya yang dikembangkan antara satu negara dengan negara lain juga
dipengaruhi oleh tingkat penguasaan teknologi yang terkait dengan nuklir oleh
masing-masing negara. Pada awal pengembangan PLTN pada tahun 1950-an, pengayaan
uranium baru bisa dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia, sehingga kedua
negara tersebut pada saat itu sudah mulai mengembangkan reaktor daya berbahan
bakar uranium diperkaya. Sementara itu di Kanada, Perancis dan Ingris pada saat
itu dipusatkan pada program pengembangan reaktor daya berbahan bakar uranium
alam. Oleh sebab itu, PLTN yang pertama kali beroperasi di ketiga negara
tersebut menggunakan reaktor berbahan bakar uranium alam. Namun dalam
perkembangan berikutnya, terutama Inggris dan Perancis juga mengoperasikan PLTN
berbahan bakar uranium diperkaya.
Sebagian besar reaktor
daya yang beroperasi dewasa ini adalah jenis Reaktor Air Ringan atau LWR (Light
Water Reactor) yang mula-mula dikembangkan di AS dan Rusia. Disebut Reaktor Air
Ringan karena menggunakan H2O kemurnian tinggi sebagai bahan moderator
sekaligus pendingin reaktor. Reaktor ini terdiri atas Reaktor Air tekan atau
PWR (Pressurized Water Reactor) dan Reaktor Air Didih atau BWR (Boiling Water
Reactor) dengan jumlah yang dioperasikan masing-masing mencapai 52 % dan 21,5 %
dari total reaktor daya yang beroperasi. Sedang sisanya sebesar 26,5 % terdiri
atas berbagai type reaktor daya lainnya. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut
berbagai jenis PLTN yang dewasa ini beroperasi diberbagai negara.
• Reaktor Air Didih
Pada reaktor air
didih, panas hasil fisi dipakai secara langsung untuk menguapkan air pendingin
dan uap yang terbentuk langsung dipakai untuk memutar turbin. Turbin tekanan
tinggi menerima uap pada suhu sekitar 290 ºC dan tekanan sebesar 7,2 MPa.
Sebagian uap diteruskan lagi ke turbin tekanan rendah. Dengan sistim ini dapat
diperoleh efisiensi thermal sebesar 34 %. Efisiensi thermal ini menunjukkan
prosentase panas hasil fisi yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik.
Setelah melalui turbin, uap tersebut akan mengalami proses pendinginan sehingga
berubah menjadi air yang langsung dialirkan ke teras reaktor untuk diuapkan
lagi dan seterusnya. Dalam reaktor ini digunakan bahan bakar 235U dengan
tingkat pengayaannya 3-4 % dalam bentuk UO2.
Pada tahun 1981, perusahaan Toshiba, General Electric dan
Hitachi melakukan kerja sama dengan perusahaan Tokyo Electric Power Co. Inc.
untuk memulai suatu proyek pengembangan patungan dalam rangka meningkatkan
unjuk kerja sistim Reaktor Air Didih dengan memperkenalkan Reaktor Air Didih
Tingkat Lanjut atau A-BWR (Advanced Boiling Water Reactor). Kapasitas A-BWR
dirancang lebih besar untuk mempertinggi keuntungan ekonomis. Di samping itu,
beberapa komponen reaktor juga mengalami peningkatan, seperti peningkatan dalam
fraksi bakar, penyempurnaan sistim pompa sirkulasi pendingin, mekanisme
penggerak batang kendali dan lain-lain.
• Reaktor Air Tekan
• Reaktor Air Tekan
Reaktor Air Tekan juga
menggunakan H2O sebagai pendingin sekaligus moderator. Bedanya dengan Reaktor
Air Didih adalah penggunaan dua macam pendingin, yaitu pendingin primer dan
sekunder. Panas yang dihasilkan dari reaksi fisi dipakai untuk memanaskan air
pendingin primer. Dalam reaktor ini dilengkapi dengan alat pengontrol tekanan
(pessurizer) yang dipakai untuk mempertahankan tekanan sistim pendingin primer.
Sistim pressurizer terdiri atas sebuah tangki yang dilengkapi
dengan pemanas listrik dan penyemprot air. Jika tekanan dalam teras reaktor
berkurang, pemanas listrik akan memanaskan air yang terdapat di dalam tangki
pressurizer sehingga terbentuklah uap tambahan yang akan menaikkan tekanan
dalam sistim pendingin primer. Sebaliknya apabila tekanan dalam sistim
pendingin primer bertambah, maka sistim penyemprot air akan mengembunkan
sebagian uap sehingga tekanan uap berkurang dan sistim pendingin primer akan
kembali ke keadaan semula. Tekanan pada sistim pendingin primer dipertahankan
pada posisi 150 Atm untuk mencegah agar air pendingin primer tidak mendidih
pada suhu sekitar 300 ºC. Pada tekanan udara normal, air akan mendidih dan
menguap pada suhu 100 ºC.
Dalam proses kerjanya,
air pendingin primer dialirkan ke sistim pembangkit uap sehingga terjadi
pertukaran panas antara sistim pendingin primer dan sistim pendingin sekunder.
Dalam hal ini antara kedua pendingin tersebut hanya terjadi pertukaran panas
tanpa terjadi kontak atau percampuran, karena antara kedua pendingin itu
dipisahkan oleh sistim pipa. Terjadinya pertukaran panas menyebabkan air
pendingin sekunder menguap. Tekanan pada sistim pendingin sekunder
dipertahankan pada tekanan udara normal sehingga air dapat menguap pada suhu
100 ºC. Uap yang terbentuk di dalam sistim pembangkit uap ini selanjutnya
dialirkan untuk memutar turbin.
Dari uraian di atas tergambar bahwa sistim kerja PLTN dengan
Reaktor Air Tekan lebih rumit dibandingkan dengan sistim Reaktor Air Didih.
Namun jika dilihat pada sistim keselamatannya, Reaktor Air Tekan lebih aman
dibandingkan dengan Reaktor Air Didih. Pada Reaktor Air Tekan perputaran sistim
pendingin primernya betul-betul tertutup, sehingga apabila terjadi kebocoran
bahan radioaktif di dalam teras reaktor tidak akan menyebabkan kontaminasi pada
turbin. Sedang pada Reaktor Air Didih, kebocoran bahan radioaktif yang terlarut
dalam air pendingin primer dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi pada
turbin. Reaktor Air Tekan juga mempunyai keandalan operasi dan keselamatan yang
sangat baik. Salah satu faktor penunjangnya adalah karena reaktor ini mempunyai
koefisien reaktivitas negatif. Apabila terjadi kenaikan suhu dalam teras
reaktor secara mendadak, maka daya reaktor akan segera turun dengan sendirinya.
Namun karena menggunakan dua sistim pendingin, maka efisiensi thermalnya
sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Reaktor Air Didih.
• Reaktor Air Berat atau HWR (Heavy Water Reactor)
• Reaktor Air Berat atau HWR (Heavy Water Reactor)
Reaktor Air Berat merupakan jenis reaktor yang menggunakan
D2O (air berat) sebagai moderator sekaligus pendingin. Reaktor ini menggunakan
bahan bakar uranium alam sehingga harus digunakan air berat yang penampang
lintang serapannya terhadap neutron sangat kecil. PLTN dengan Reaktor Air berat
yang paling terkenal adalah CANDU (Canadian Deuterium Uranium) yang pertama
kali dikembangkan oleh Canada. Seperti halnya Reaktor Air tekan, Reaktor CANDU
juga mempunyai sistim pendingin primer dan sekunder, pembangkit uap dan
pengontrol tekanan untuk mempertahankan tekanan tinggi pada sistim pendingin
primer. D2O dalam reaktor CANDU hanya dimanfaatkan sebagai sistim pendingin
primer, sedang sistim pendingin sekundernya menggunakan H2O.
Dalam pengoperasian reaktor CANDU, kemurnian D2O harus dijaga
pada tingkat 95-99,8 %. Air berat merupakan bahan yang harganya sangat mahal
dan secara fisik maupun kimia tidak dapat dibedakan secara langsung dengan H2O.
Oleh sebab itu, perlu adanya usaha penanggulangan kebocoran D2O baik dalam
bentuk uap maupun cairan. Aliran ventilasi dari ruangan dilakukan secara
tertutup dan selalu dipantau tingkat kebasahannya, sehingga kemungkinan adanya
kebocoran D2O dapat diketahui secara dini.
• Reaktor Magnox atau MR (Magnox Reactor)
• Reaktor Magnox atau MR (Magnox Reactor)
Reaktor Magnox menggunakan bahan bakar dalam bentuk logam
uranium atau paduannya yang dimasukkan ke dalam kelongsong paduan magnesium
(Mg). Reaktor ini dikembangkan dan banyak dioperasikan oleh Inggris. Termasuk
dalam reaktor jenis ini adalah reaktor penelitian pertama di dunia yang
dibangun oleh tim pimpinan Enrico Fermi di Chicago, Amerika Serikat. Reaktor
Magnox menggunakan CO2 sebagai pendingin, grafit sebagai moderator, dan uranium
alam sebagai bahan bakar. Panas hasil fisi diambil dengan mengalirkan gas CO2
melalui elemen bakar menuju ke sistim pembangkit uap. Dari pertukaran panas ini
akan dihasilkan uap air yang selanjutnya dapat dipakai untuk memutar turbin.
Hasil dari usaha dalam penyempurnaan unjuk kerja Reaktor
Magnox adalah diperkenalkannya Reaktor Maju Berpendingin Gas atau AGR (Advanced
Gas-cooled Reactor). Dalam reaktor ini juga menggunakan CO2 sebagai pendingin,
grafit sebagai moderator, namun bahan bakarnya berupa uranium sedikit diperkaya
yang dibungkus dengan kelongsong dari baja tahan karat. Pengayaan bahan bakar
ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi thermal dan fraksi bakar bahan
bakarnya.
• Reaktor Temperatur Tinggi atau HTR (High Temperature Reactor)
• Reaktor Temperatur Tinggi atau HTR (High Temperature Reactor)
Reaktor Temperatur Tinggi adalah jenis reaktor yang
menggunakan pendingin gas helium (He) dan moderator grafit. Reaktor ini mampu
menghasilkan panas hingga 750 ºC dengan efisiensi thermalnya sekitar 40 %.
Panas yang dibangkitkan dalam teras reaktor dipindahkan menggunakan pendingin
He (sistim primer) ke pembangkit uap. Dalam pembangkit uap ini panas akan
diserap oleh sistim uap air umpan (sistim sekunder) dan uap yang dihasilkannya
dialirkan ke turbin. Dalam reaktor ini juga ada sistim pemisah antara sistim
pendingin primer yang radioaktif dan sistim pendingin sekunder yang tidak radioaktif.
Elemen bahan bakar yang digunakan dalam Reaktor Temperatur
Tinggi berbentuk bola, tiap elemen mengandung 192 gram carbon, 0,96 gram 235U
dan 10,2 gram 232Th yang dapat dibiakkan menjadi bahan bakar baru 233U. Proses
fisi dalam teras reaktor mampu memanaskan gas He hingga mencapai suhu 750 _C.
Setelah terjadi pertukaran panas dengan sistim sekunder, suhu gas He akan turun
menjadi 250 ºC. Gas He selanjutnya dipompakan lagi ke teras reaktor untuk
mengambil panas fisi, demikian seterusnya. Dalam operasi normal, reaktor ini
membutuhkan bahan bakar bola berdiameter 60 mm sebanyak ± 675.000 butir yang
diletakkan di dalam teras reaktor. Rata-rata setiap butir bahan bakar tinggal
di dalam teras selama enam bulan pada operasi beban penuh.
0 komentar:
Posting Komentar
saya berhak menghapus komentar tidak pantas secara sepihak.